Ini merupakan foto saat ada kunjungan dari warga Amerika yang juga merupakan aktivis perdamaian di EIN Institute.
Senang sekali dapat berkumpul bersama mereka. Disini saya baru merasakan apa yg digagas oleh tokoh yg saya kagumi yaitu Gus Dur mengenai asas Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan.
.
"Jika kita berbeda dalam aliran islam A,B, C dan seterusnya yg kita ikuti, kita kembalikan bahwa kita sama-sama Islam"
.
.
"Jika kita berbeda agama, suku, budaya, kita kembalikan bahwa kita sama-sama warga Indonesia"
.
.
"Jika kedua hal tadi masih belum bisa, lakukan yg terakhir, bahwa kita sama-sama manusia"
.
.
Berbeda adalah sebuah keniscayaan..
Damai itu Indah... :)
Malam ini aku merasakan hal yang berbeda, rasanya bercampuran. Karena pada tiga hari ke depan aku akan tinggal di daerah yang masih baru bagiku pribadi.
Ku pijakkan kakiku di gerbong kereta api yang juga pertama kalinya aku menumpanginya. Sebelumnya aku tak pernah naik kereta api, ini pengalaman awalku.
Dengan segenap do'a dan harap, aku bertolak dari stasiun Tawang menuju stasiun Senen Jakarta.
#ditulis di kereta api Gumarang Bis 8A
21 November 2017
![]() |
| doc. internet |
Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian
Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai
Bingung-bingung ku memikirnya
Meski kau anak manusia, ingin aman dan sentosa
Wahai kau anak manusia, ingin aman dan sentosa
Tapi kau buat senjata, biaya berjuta-juta
Banyak gedung kau dirikan, kemudian kau hancurkan
Bingung-bingung ku memikirnya
Rumah sakit kau dirikan, orang sakit kau obatkan
Orang miskin kau kasihi, anak yatim kau santuni
Tapi peluru kau ledakan, semua jadi berantakan
Bingung-bingung ku memikirnya
Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai
Bingung-bingung ku memikirnya
Meski kau anak manusia, ingin aman dan sentosa
Wahai kau anak manusia, ingin aman dan sentosa
Tapi kau buat senjata, biaya berjuta-juta
Banyak gedung kau dirikan, kemudian kau hancurkan
Bingung-bingung ku memikirnya
Rumah sakit kau dirikan, orang sakit kau obatkan
Orang miskin kau kasihi, anak yatim kau santuni
Tapi peluru kau ledakan, semua jadi berantakan
Bingung-bingung ku memikirnya
Itulah penggalan
lirik lagu nasidaria yang berjudul “Perdamaian”. Sebenarnya saya cuma ingin mosting ini saja
si… sededar memenuhi tantangan kawan-kawan Edukasi, soalnya tema yang diambil
kan “perdamaian”, cukupkan? Hehe. Tapi setelah
tak pikir-pikir kayaknya perlulah sedikit saya singgung terkait tema ini secara
agak medalam yang tidak dalam sebenernya. :D
Oke,
sebelum kita masuk ke tema alangkah baiknya kita refleksikan dululah apa yang
pernah aku lakukan. Ya… terutama buat kalian kawan-kawan kru Edukasi kali aja
aku punya salah, mohon dimaafkan ya????
Rikha yang sering aku ejek, tapi sebenere
ejekanku spontan kok, nggak menghina kan? Cuma iseng… haha, terus juga si Aziz
yang awet banget kecilnya, juga sering aku ejek, kadang sampe bertengkar sama
dia,,.. mbuh bocah cilik kakean polah ki…
haha, lalu si Fitri tak luput dari ejekan-ejekanku pula, karena dia adalah
sosok wanita yang cetar membahana dengan make up yang selalu ia bawa melalui
kantong ajaib… hoho, kemudian si Riska, kalau ini mah aku kayake gak berani
ngejek, lha tonggoku dewe bro…heuheu, selanjutnya si mimin, kayaknya tiap kali
ketemu sering tak ejek, haha habisnya suara khas sindennya bikin bulu kuduk
menari-nari haha, terus yang terakhir si Wirda, si bocah yang sekarang ini nesunan haha peace.. ya pokoknya intinya karena ini temanya “perdamaian” aku minta
damai dan maaf sama kalian semua yang tak bisa aku sebutkan satu per satu. Dimaafkan
ya? Nek gak, rak dadi boloku kwe… hihi
Nah,
kalau begini kan enak kita bahas temanya. Masak ya tema damai, kita sendiri
nggak damai? Kan kurang afdhol- lah ya,,. Podo
wae ngomong dobol..hehe.
Langsung saja, membahas
masalah damai, sebenarnya simple. Seperti
yang barusan saya tuliskan. Bener nggak? Enggak.. :D wes angger dianggep bener,. Haha. Sesama kru Edukasi pastilah kita ada
perselisihan. Dan itulah mengapa saya meminta maaf. Namun, damai sendiri ternyata susahya kita terapkan jika sudah sekala besar. Seperti
di Negeri Indonesia kita tercinta ini. Banyaknya golongan-golongan menambah
runyamnya permasalahan yang kemungkinan terjadi.
Disini
saya yakin, bahwa sebenarnya semua golongan-gologan ini menginginkan
perdamaian. Namun pada kenyataannya mereka lebih memilih egonya sendiri dibanding
kepentingan bersama. Lalu ego-ego yang
berbentuk kefanatikan inilah yang menimbulkan perpecahan. Seperti yang sekarang
kita lihat, musim-musim Pilkada maupun Pil KB mungkin.. hehe. Ya, ada sajalah golongan-golongan yang katanya
mau aksi damai…. eh ternyata kok masih bertengkar.. bermusuhan, berselisih, dan
ber ber lainya… ini damai? Atau damai-damaian? :D. Padahal
setahuku damai kan saling mengasihi.. menyanyangi… memaafkan, bila ada salah,.( kok kayak lagu,. Hehe)
Saya jadi ingat dengan quotenya Robert Siahaan, ia mengatakan “Banyak orang hanya membela
fanatisme terhadap agama, politik atau pribadi tertentu dan bukan terhadap
kebenaran.” Maka dari itulah sebagai orang Islam, sebagai orang Indonesia, dan
sebagai manusia pada umumnya sangatlah penting buat kita untuk menjunjung
tinggi kebenaran dan hapuslah kefanatikan-kefanatikan, agar “Perdamaian”
sebagai kata kunci awal kita tadi dapat terwujud. Amin……. :)
NB:
Ditulis oleh: Awak dewe (Seng duwe blog iki) dan bukan untuk menyinggung golongan tertentu. hanya mengkritik realita sesuai opini pribadi. :)
Duh rembulan.. kau begitu elok terangi dunia dikala senja tiba....
Aku begitu mengagumimu.
Walau aku hanyalah bintang usang dari sekian jutaan bintang di langit...
Mungkin, aku tak ada apa"nya jika dibanding bintang yg lain..
bintang yg bersinar benderang...
apalagi dibandingkan dirimu rembulan..
Ya aku mulai sadar, aku memang tak bisa paksakan diri untuk bersanding denganmu...
Karena cahayaku tak seterang dan seelok dirimu..
Namun, apakah salah jika bintang usang ini hanya ingin menemani malammu?
Menemani malam-malam untuk melepas semua rindu dariku...
sang bintang usang..
kudus, 1 feb 2017
Sekarang lagi hobi dan belajar buat foto vektor dengan corel ( bikin foto jadi kartun)
liat hasilnya.... !!
Namun sebelum itu saya ucapkan selamat atas wisudanya kru LPM Edukasi:
1. Kawan Rohimin
2. Kawan Ulfa
3. Kawan Hakim
4. Kawan Hanik
5. Kawan Sylvi
6. Kawan Irfan
7. Kawan Oka
Semoga ilmu yang didapat bermanfaat :)
liat hasilnya.... !!
Namun sebelum itu saya ucapkan selamat atas wisudanya kru LPM Edukasi:
1. Kawan Rohimin
2. Kawan Ulfa
3. Kawan Hakim
4. Kawan Hanik
5. Kawan Sylvi
6. Kawan Irfan
7. Kawan Oka
Semoga ilmu yang didapat bermanfaat :)
Mengenal Sosok Jayabaya dan Ramalannya
Judul Buku : Misteri Ramalan Jayabaya;Siapa Pemimpin Selanjutnya di Negeri Ini?
Penulis : Petir Abimanyu
Penerbit : Palapa
Tahun Terbit : Januari 2014
Jumlah Halaman : 288
Resensator : Muhammad Fakhrur Riza
Sosok Maharaja Kediri yang Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Wameswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa ini bukanlah sekedar menjadi raja termasyhur di zamannya. Akan tetapi, sampai sekarang pun ia dikenal di semua zaman. Bisa dibilang, ia adalah satu-satunya raja yang pernah hidup di bumi nusantara yang namanya tetap harum dan abadi, serta mampu menembus batas antar generasi.
Salah satu penyebab kemasyhurannya ialah ramalan-ramalan yang ia cetuskan. Seperti ketika hadir pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia. Secara tiba-tiba nama Jayabayalah yang mencuat di antero nusantara. Masyarakat menganggap bahwa pemimpin-pemimpin Indonesia sudah diramalkan semenjak dahulu kala, bahkan sebelum Negara ini didirikan yang dikenal dengan istilah na-ta-na-ga-ra (notonegoro). Selain tentang Pemilu tadi, ramalan Jayabaya seringkali juga dikaitkan dengan terjadinya bencana-bencana yang terjadi di Indonesia.
Jayabaya adalah seorang peramal hebat yang mampu meramal bangsa ini. Ramalannya ini ia tuliskan dalam kitab yang disebut Jangka Jayabaya. Kitab ini berisi tentang prediksi (ramalan) Jayabaya tentang masa depan Indonesia, termasuk para pemimpin, korupsi, agama dan sebagainya.
Dalam buku Misteri Ramalan Jayabaya, karya Petir Abimanyu, seorang penulis yang gemar akan dunia mistik jawa ini, mencoba mengulas sosok raja besar bernama Jayabaya secara gamblang. Selain itu, penulis juga mengupas terkait Jangka Jayabaya serta relevansi nya dalam kehidupan. Rahasia ramalan-ramalan ini kemudian ia bagi menjadi lima bagian. Pertama yaitu tujuh tahapan Indonesia yang diantaranya Kalajangga (Zaman Pujangga Baru), Kalasakti (Zaman Kemerdekaan dan Orde Lama), Kalajaya (Zaman Orde Baru), Kalabendu (Zaman Reformasi), Kalasubha (Zaman Sukaria), Kalasumabaga (Zaman Ketenaran), dan Kalasutra (Zaman Kebijaksanaan). Kedua yaitu mengupas tentang ramalan pemimpin di Indonesia yang dituangkan dalam No-To-Na-Go-Ro. Lalu yang Ketiga, terkait sosok Satrio Piningit, dan bagian keempat tentang Korupsi di Indonesia. Kemudian yang terakhir yaitu tentang ramalan tenggelamnya pulau Jawa.
Secara sederhana, penulis mencoba mengungkap rahasia dibalik ramalan Jangka Jayabaya yang terkenal dan masyhur ini. Demikian, sebab Jangka Jayabaya hingga detik ini kerap menjadi rujukan banyak orang , termasuk para sejarawan. Dengan begitu,tentu buku ini cocok dibaca oleh semua kalangan dari masyarakat umum sampai akademisi yang memang menggeluti bidang ini untuk menambah wawasan baru. Namun, satu yang menjadi catatan penting bahwa dengan adanya ramalan ini janganlah sampai membuat kita terlena akan kejadian yang menimpa bangsa ini. Karena, kebenaran hakiki tetaplah kita kembalikan pada Sang Pencipta Alam. Sehingga pada akhirnya, hadirnya ramalan Jayabaya dalam perputaran masa di negeri ini tidak akan merusak iman yang sudah kita tanamkan semenjak lahir.
*Pernah dipublikasikan di lpmedukasi.com
Mendengar istilah ‘Rebo Wekasan’ memanglah sudah tidak asing
lagi di telinga kita, terutama orang jawa yang masih memegang erat
ajaran-ajaran para ulama’ tertadahulu. ‘Rabu Wekasan’ merupakan hari rabu
diakhir bulan shafar. Dimana dari beberapa sumber menyatakan bahwa dihari
tersebut akan diturunkan banyak bala’ (kesialan/musibah).
Seperti yang terjadi pada masyarakat
jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar
adalah bulan sial. Tasa'um (anggapan sial) ini
telah terkenal pada umat jahiliyah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan
muslimin hingga saat ini. Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah:
"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).
"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).
Dari hadits ini dijelaskan bahwa,
semua kehendak baik maupun buruk tetaplah kita kembalikan pada Allah semata. Jadi,
kalaupun kita mempercayai datangnya balak pada ‘rabu wekasan’ ini, jangan sampai
menjadikan kita menyekutukan Allah. Namun sebaliknya, kita justru dianjurkan
lebih mendekatkan diri pada sang khaliq dengan senantiasa berdzikir menunaikan
amalan-amalan yang tentunya berdampak positif bagi diri kita secara pribadi,
dan sekeliling kita secara umumnya. Amin ya rabbal alamin,..
Langganan:
Postingan (Atom)



















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact