Mata Najwa On Stage bertemakan "cinta untuk negeri"
sabtu 29 agustus 2015 di lapangan Sutera Universitas Negeri Semarang (Unnes)
Talksohow yang dipandu oleh mbak nana (Najwa Sihab) mencoba membangun minset bangsa ini untuk lebih mencintai dan bangga akan negeri nan subur "Indonesia"
di dalam talkshow tersebut menghadirkan narasumber-narasumber top. Seperti:
-Anies Baswedan (Mentri Pendidikan RI) yang ternyaa mahasiswa lulusan UGM ini lulus dengan IPK 2,9.
beliau menyangkal itu merupakan hasil yang sudah sangat baik. karena semasa itu batas untuk bisa lanjut progam S2 IPK minimal 2.7. haha mantap pak mentri,,. boleh lah,,.. :D
selain itu beliau juga jago masalah ilmu perbengkelan,,.. gokil........ haha
- Ganjar Pranowo (Gubenur Jateng). ternyata beliau ini semasa masih menjadi mahasiswa yang suka berantem bro,,,. dia juga aktif dalam organisasi pecinta alam yang di ketuainya pula,,. jos pak ganjar,,. haha
- Titiek Puspa (Aktris kawakan Nasional) dengan segudang pengalamannya, beliau telah hidup di semua era presiden Indonesia. mulai bung Karno sampai Bung Joko. haha
hidup beliau hanya dipergunankan untuk berkarya yang di persembahkan untuk negeri tercinta "Indonesia". Bahkan di usianya yang sudah makin tua ini beliau berprinsip untuk memberikan yang terbaik untuk indonesia melalui apa yang ia mampu berikan.
sungguh tokoh kawakan yang inspiratif eyang Titiek Puspa,,. :)
-Iko Uwais (Aktor Indonesia). Iko merupakan aktor film-film layar lebar. seperti film: The raid, Merantau dll.
iko sendiri memberikan rasa cinta pada negrinya melalui caranya yaitu melestarikan kebudayaan silat yang seharusnya menjadi ciri bangsa Indonesia ini,.. selain itu iko juga masih mendapatkan job main film yang bertaraf internasional. keren bro... :D
Semangat kak Iko Uwais,,. semoga karirmu makin sukses dan membagakan negeri ini. :)
-Jubing Kristianto (Musisi Handal asal Semarang). beliau ini sanagat semangat sekali dengan yang namanya musik. ia memberikan rasa cinta pada negeri ini dengan mempersembahkan lagu-lagu tanah air dalam album-albumnya. dia juga berusa mengenalkan musik kepada anak-anak serta menyelipkan rasa nasionalisme melalui lagu tanah air dan lagu-lagu daerah.
Selalu berkarya kak jubing... :)
Sangat keren dan fantastik memang acara yang di gelar oleh Mata Najwa kali ini. apalagi menghadirkan grup band "Shaggy dog" makin menambah keseruan acara tersebut yang dihadiri kurang lebih 15ribu orang..
Cukup mengesankan,,. Ku tunggu lagi acara-acara seperti ini. THE END :)
“Muslim
Is Not a Terrorist” (Muslim Bukanlah Teroris)
Judul Buku : Bulan
Terbelah di Langit Amerika
Penulis :
Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : PT.
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :Cetakan ketujuh, Januari 2015
Tebal :
344 Halaman
Resensator : Zainal Arifin
“Bulan Terbelah di Langit Amerika”, sebagian besar pembaca mungkin akan
penasaran dengan isinya. Pembaca akan dibuat bertanya-tanya “Apa sih maksud
judul bulan terbelah di langit Amerika ini?”. Mungkin ada pembaca yang mulai
berandai-andai “Apa benar ada bulan yang terbelah di langit Amerika?”. Mungkin
pula juga ada yang mengira bahwa buku ini berisi cerita traveling penulis
selama di Amerika, lalu menyaksikan bukti nyata di suatu laboratorium astronomi
universitas tertentu atau bahkan laboratorium milik NASA bahwa bulan memang
pernah terbelah. Rupanya penulis, Hanum Salsabila Rais dan Ranga Almahendra
sengaja membuat penasaran para pembaca novel ini. Pembaca dituntut untuk
melahap habis seluruh isinya agar kita sebagai pembaca bisa paham dan
memperoleh jawaban mengapa judul bukunya seperti itu. Semuanya akan terungkap
jelas ketika kita membaca bagian akhirnya.
Novel yang satu ini bisa dikatakan novel religius kontemporer
bertemakan sejarah Islam, seperti novel best seller Hanum Salsabela Rais
dan Rangga Almahendra sebelumnya mengangkat tema sejenis yaitu 99 Cahaya di
Langit Eropa. Novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika” merupakan kelanjutan
kisah petualangan Hanum dan Rangga selama hidup di negeri orang. Sebelum novel
ini terbit, penulis telah menulis dua buku best seller yaitu “99 Cahaya di
Langit Eropa” dan “Berjalan di Atas Cahaya”. Berbeda dengan dua buku
pendahulunya yang didasarkan pada cerita nyata, novel “Bulan Terbelah di Langit
Amerika” merupakan perpaduan antara berbagai dimensi genre buku yaitu drama,
fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi. Pembaca tak akan
bosan membaca fakta sejarah dan ilmiah karena disajikan secara apik dalam novel
ini.
Novel ini diceritakan berlatar belakang atas tragedi 11 September
2001, ketika gedung tertinggi di Amerika Serikat saat itu, World Trade
Center (WTC) satu dan dua runtuh ditabrak oleh American Airlines Flight 11
yang dibajak. Meskipun sudah lama berlalu, peristiwa Black Tuesday masih
terekam dalam ingatan kita. Amerika dan Islam, bak dua kutub yang tolak menolak.
Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap
penganutnya. Dunia seakan mengidap Islamophobia berjamaah. Penyakit itu menular
dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang
berbau Islam. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala
bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, “Apakah dunia
akan lebih baik tanpa Islam?”. Pertanyaan itu lah yang akan terkupas tuntas di
bagian cerita dari novel ini.
Berawal dari penugasan dari seorang bos, Gertrud Robinson. Hanum
sebagai wartawan diperintahkan untuk menulis artikel di sebuah surat kabar
Austria, yang bernama “Heute ist Wunderbar”, Today Is Wonderful,
Hari Ini Luar Biasa. Hanum ditantang untuk menulis artikel berjudul “Would the
world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”. Bagi
Hanum, itu adalah sebuah tugas besar dimana ia harus berkata “tidak” pada
pertanyaan itu. Ia harus membuktikan bahwa dunia dan islam adalah dua hal yang
tak terpisahkan. Bagi Gertrud Robinson, Hanum adalah orang yang tepat untuk
menjelaskannya, sebab ia muslim. Ketimbang wartawan lain, yang hampir saja
tugas itu diamanahkan kepada Jacob, seorang non muslim yang pastinya akan
berkata “ya” pada pertanyaan tersebut.
Hanum dan Rangga akhirnya terbang ke Amerika secara bersama-sama,
namun mereka memiliki misi yang berbeda. Jika Hanum bertugas untuk
menyelesaikan tugas kewartawanannya, lain halnya dengan Rangga. Rangga
bertandang ke Amerika untuk mengikuti konferensi ilmiah. Misi yang berbeda dari
keduanya yang ternyata pada akhirnya mempertemukan mereka pada Philipus Brown,
seorang pengusaha dan penderma yang juga merupakan korban black Tuesday. Semuanya
terkuak ketika Philipus Brown bercerita tentang kisah di balik tragedi naas
itu. Semuanya terungkap bahwa Amerika dan islam adalah dua hal yang tak
terpisahkan.
Buku ini tak hanya inspiratif, namun buku ini juga menyuguhkan
sejarah mengenai hubungan Islam dan Amerika. Bercerita tentang suku Melungeon,
Thomas Jefferson dan Al-Qur’an, dan potongan surat An-Nisa yang tertulis di
salah satu pintu gerbang fakultas Hukum Harvard USA. Selain itu, novel ini juga
mengungkapkan fakta bahwa Christophorus Colombus sebenarnya bukan penemu benua
Amerika. Tertulis bahwa jauh sebelumnya, berkisar 300 tahun sebelum Colombus
datang ke Amerika, benua ini telah dihuni oleh orang Indian, orang-orang yang
bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah. Pembaca
akan terkejut pula ketika mengetahui bahwa dalam jurnal pelayarannya Colombus,
ia melihat adanya kubah masjid yang indah di Selat Gibarata. Hal ini
membuktikan bahwa Islam hadir di Amerika jauh sebelum Colombus datang.
Dalam sebagian isi novel ini ada sedikit kekurangan, yaitu banyaknya
istilah dalam bahasa asing yang kurang dijelaskan secara lebih rinci. Namun dari
kekurangan itu Hanum Salsabiela menyuguhkan kisah perjalanan sebagai agen
muslim yang baik ke Amerika. Membacanya seperti menghadirkan layar film di
hadapan pembaca. Kisah para korban tragedi Black Tuesday memang sangat
mengharukan. Akan tetapi beberapa tingkah Hanum dan Rangga, sebagai suami
istri, yang kocak melengkapi kisah ini dengan sempurna. Sehingga kita tidak
hanya terharu, tapi juga tersenyum saat membaca novel ini.
Selain itu, dituturkan secara apik oleh sang penulis yang mampu
membuat pembaca ikut larut ke dalam kisah di dalamnya. Sebuah buku tentang
kisah perjalanan yang sarat akan makna dan membuat pembaca semakin mencintai
Islam. Novel ini tak hanya cocok buat pembaca muslim saja, melainkan juga cocok
buat seluruh masyarakat dunia agar paham bahwa “muslim is not a terrorist”,
muslim bukan lah teroris. Pembaca akan paham bahwa dunia dan islam adalah dua
hal yang tak terpisahkan. Dunia tanpa islam adalah dunia tanpa kedamaian.
Membangun Perspektif Baru dalam Filsafat
Judul Buku : Aku Berfikir maka Aku Tertawa
Penulis : John Allen Paulos
Penerjemah : Fahruddin Faiz
Penerbit : Khazanah, Solo
Tahun terbit : Cetakan pertama, Februari 2005
Jumlah Hal : 219 halaman
Resensator : Muhammad Fakhrur Riza
“Filsafat”, kesan sebagian besar orang Indonesia
terhadap istilah ini seringkali artifisial. Filsafat sering dipandang sebagai
bidang eksklusif yang tidak sembarang orang bisa memahami. Filsafat dilihat
sebagai satu dunia yang mahal, mewah, eksklusif, elite, dan kadang dianggap
suatu yang khusus. Satu dunia yang sesekali dipuji dan diidealkan, tetapi tidak
jarang pula dihujat dan disesatkan. Apalagi jika dikaitkan dengan logika
ekonomi yang menjadi dasar berpikir manusia masa kini, maka filsafat harus
dikatakan sebagai "makhluk asing" yang tidak memberikan profit apapun
selain "pembingungan".
Filsafat bagi
sebagian besar kita identik dengan kata ruwet, mengada-ada, tidak mau diatur,
ingin menang sendiri, mengacaukan ketertiban, anti spiritualitas atau agama.
Selain itu juga termasuk gambaran-gambaran tentang seorang filosof sebagai
tukang debat yang tidak mau disalahkan, orang kurang kerjaan yang membahas hal-hal yang sudah jelas
atau orang yang hidupnya kacau, berambut gondrong,
jarang mandi dan menyebalkan.
Ironisnya lagi,
pandangan yang artifisial terhadap filsafat tersebut seringkali juga
menjangkiti mereka yang menggeluti dunia filsafat seeara langsung, baik para
mahasiswa filsafat, dosen filsafat maupun para peminat filsafat itu sendiri.
sehingga ada kalanya mereka ini belum merasa menjadi penduduk dunia filsafat
yang 'sah' jika belum menampilkan ciri-ciri artificial tersebut.
Selain
pandangan-pandangan yang sedemikian rupa, seseorang beranggapan negatif yang berawal dari susahnya belajar filsafat, termasuk karena keruwetan-keruwetan cara
kajiannya atau susah dipahaminya pemikiran-pemikiran kefilsafatan di buku-buku
filsafat. Mereka ini kemudian menyimpulkan bahwa kerja filsafat itu
hanya "bikin bingung" atau sekedar keruwetan dan
mereka yang "kurang kerjaan" saja.
John Allen Paulos dengan bukunya yang unik
diterjemahkan oleh seorang
intelektual muda dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga, Yogyakarata,
Fahruddin Faiz ini ingin menunjukkan bahwa filsafat dengan
segala pernik epistemologis, ontologis dan aksiologisnya adalah juga hasil
cipta, karya dan rasa manusia biasa melalui ruang lingkup pemahamannya yang
bernama akal-budi. Karena merupakan produk dari manusia, maka filsafat juga memiliki
atribut-atribut manusiawi seperti subyektifitas, partikularitas,
kontekstualitas dan lain sejenisnya. Meskipun kerja filsafat biasanya
diandaikan sebagai pendayagunaan akal-budi manusia secara radikal untuk
pencapaian 'kebenaran' fundamental, namun tetap saja keterbatasan-keterbatasan
manusiawi tidak mungkin dilepaskan darinya.
Dari yang sudah terpapar diatas, buku ini pada
dasarnya bernuansa filsafat, namun pembaca tidak diajak untuk berpikir serius apalagi
jelimet, karena filsafat juga dapat disajikan dengan ungkapan-ungkapan yang
sederhana dan bahkan dalam bentuk humor yang menyegarkan. Sebagaimana yang diilustrasikan oleh penerjemah dalam
pengantarnya, bahwa dalam buku Allen Paulos ini produk akal-budi manusia itu pada dasarnya
adalah kontekstual dan manusiawi. Apabila dicoba
untuk diterapkan "tidak pada tempatnya", dicabut
dari konteks wacana yang melatarinya, maka makna
dan ketepatan asumsi dasarnya akan bergeser, dan
yang terjadi kemudian adalah kelucuan-kelucuan. “Aku berfikir, maka aku tertawa”
Buku ini
sendiri mengelaborasian tiga wilayah utama yang menjadi lahan kajian favorit
kefilsafatan, yaitu logika, sains, dan sosial-kemasyarakatan. Dengan gaya
pemikiran dan sudut pandang dari Allen Paulos ini, tentunya buku ini cocok
dibaca oleh semua kalangan. Akan tetapi buku ini karena merupakan buku
terjemahan, dalam tata bahasanya ada sebagian yang sulit difahami. Selain itu
juga, bisa jadi bagi kalangan yang terlalu fanatik akan dunia filsafat
menganggap buku ini sebagai pelecehan terhadap filsafat. Namun, dari semua itu
buku ini tetap memilik nilai positif dalam membangun perspektif baru akan dunia
filsafat.
Langganan:
Postingan (Atom)








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact