Rabu, 24 Februari 2016 0 komentar

Resensi Buku " Suluk Kiai Cebolek"



Kisah Wali Allah Bernama “Kiai Cebolek”

Judul Buku    : Suluk Kiai Cebolek: Dalam Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal
Penulis            : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin
Penerbit          : PRENADA
Tahun terbit : Cetakan ke-1 Februari 2014
Jumlah Hal    : xvi + 300 halaman
Resentator      : Muhammad Fakhrur Riza

Kiai Cebolek adalah sebutan untuk seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Beliau disebut-sebut sebagai salah satu “Wali Allah” yang sangat berpengaruh pada zamannya. Beliau juga diterima oleh masyarakat karena menggunakan strategi yang arif, dengan menghormati khazanah tradisi lokal yang sudah mengakar. Kebijaksanaan, kearifan, dan kedalaman wawasan keilmuan serta spritualitas Kiai Cebolek ini yang menjadi modal penting dalam dakwah Islamnya di tanah Jawa.
Kiai Cebolek hidup sebagai ulama besar di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek, sekitar 30 kilometer arah utara kota Pati, Jawa Tengah. Dalam kajian sejarah sastra Jawa, nama daerah tersebut sudah diabadikan dalam sebuah serat (treatise) yang disebut Serat Cebolek. Sebuah kitab yang memuat kisah-kisah bararoma keagamaan dan kekuasaan yang melibatkan sosok Kiai Cebolek melawan kekuasaan kerajaan.
Dari Sebagian kalangan, ada yang beranggapan bahwa Kiai Cebolek mengajarkan Ilmu hakikat yang menyimpang dari Syari’at Islam. Bahkan derajat kontroversinya disamakan dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh Syekh Siti Jenar. Kontroversi Kiai Cebolek merupakan salah satu dari contoh ketegangan yang sudah ada sejak lama antara Islam legalistik (eksoteris) dan tasawuf (esoteris). Hal itulah yang kemudian menjadi tema utama pembahasan dalam serat cibolek ini.
Buku yang berjudul “Suluk Kiai Cebolek: Dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal” karya Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin ini mencoba mengurai kisah kontroversi dan kemasyhuran sosok Kiai Cebolek. Ada tiga hal yang mempengaruhi kemasyhuran Kiai Cebolek yaitu Pertama, Kiai Cebolek menguasai ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), bidang kalam, bidang fikih, dan bidang tasawuf. Kedua, Kiai Cebolek menguasai elemen-elemen kebudayaan lokal yang bersifat non-islam, khususnya kisah pewayangan (kisah Bima dan Dewa Ruci), dan memanfaatkan tradisi lokal itu sebagai medium untuk menyampaikan ajaran islam tanpa melanggar ketentuan syariat yang sudah dipahaminya. Ketiga, komitmen Kiai Cebolek pada gerakan kultural-kerakyatan dengan tidak terpengaruh bingar-bingar kekuasaan yang banyak menggoda para tokoh agama.
Terdapat sisi menarik dari buku ini, yaitu penulis telah mampu memaparkan kosmologi kesufian Kiai Cebolek yang membentuk simetrisitas relasi antara Allah, Manusia, dan Alam. Penulis telah menunjukkan temuannya, berupa suluk Kiai Cebolek yang tidak tersusun dalam puisi-puisi seperti suluk dalam teks kewalian sebelumnya, justru suluk Kiai Cebolek ditemukan dari ornamen-ornamen pada langit-langit Masjid Kajen Pati. Pada ornamen-ornamen ini terukir berbagai aneka alam lestari, misalnya, pohon, ular, burung, bulan, matahari, manusia, dan beberapa unsur kelestarian alam. Keseluruhan ornamen ini telah dikupas secara filosofis menjadi sebuah suluk kewalian yang bisa membentuk keseimbangan jiwa dan kepribadian yang baik yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup.
Selain itu, dalam buku ini disinggung juga perspektif KH. Abudarahman Wahid (Gus Dur) mengenai Kiai Cebolek, bahwa gerakan Kiai Cebolek diakui sebagai gerakan “Pribumusasi Islam”. Sehingga kita bisa menengok cara-cara konsep “Pribumusasi Islam” itu sendiri lewat pandangan Kiai Cebolek. Pribumisasi yang diterapkan oleh Kiai Cebolek merupakan sebuah fase kesadaran ide, yakni kesadaran atau realisasi tentang gagasan yang mampu membentuk sikap dan kepribadinan individu yang direalisasikan dalam keimanan dan amal perbuatan.
Dari apa yang telah dipaparkan, secara sederhana buku ini bukan sekedar utopia atau juga bukan sekedar definisi ideologis. Sebab dakwah yang dilakukan Kiai Cebolek yakni menembus langsung dalam jantung eksistensial manusia, yakni totalitas manusia sebagai “sebaik-baik ciptaan”. Melainkan dakwah yang  menyentuh semua aspek mulai dari amal perbuatan, pemikiran, kejiwaan, dan rohani itu sendiri.
Pembangunan perspektif dakwah dari sosok Kiai Cebolek yang terkisah secara apik dalam buku ini, tentunya sangat cocok sekali bagi kalangan muslim terutama di ranah Nusantara untuk membacanya. Mengenal dan meneladani beliau sebagai ulama besar yang menjunjung tinggi kearifan lokal serta amal perbuatan dan kerohanian melalui suluk-suluknya, pastilah sangat diharapkan. Namun, bagi sebagian kalangan mungkin saja ada yang menentang perspektif ini dengan alasan kontroversialnya Kiai Cebolek seperti halnya Syekh Siti Jenar.

*pernah dipublikasikan di koran tempo edisi 31 januari 2016
Sabtu, 26 Desember 2015 0 komentar

Bangga Edukasi ku




Oleh: Muhammad Fakhrur Riza


Gerbang awal masuk dunia perkuliahanku kala itu telah dibuka. Sebagai mahasiswa baru memang lagi semangat-semangatnya, termasuk aku. Banyak sekali Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) aku ikuti. Diantaranya, Edukasi, Tarbiayah Sport Club (TSC), Bimbingan Ilmu Tilawaih Al-Qur’an  BITA, dan UKM Universitas Nafilah. Namun, dari sekian banyak UKM yang aku ikuti hanya “Edukasi” lah yang membuatku nyaman, dan sampai saat ini Edukasi pula satu-satunya UKM yang masih eksis aku ikuti. 

“Edukasi”, mendengar kata ini pada awal-awal masuk kuliah aku langsung berfikir bahwa disinilah tempat yang paling tepat untuk meraih cita-citaku selama ini. Tempat dimana aku dapat menempa dan menimba ilmu dalam hal tulis menulis, serta yang paling utama tentunya mampu membangun gejolak menulisku yang belum begitu merasuk di sanubari. Walaupun sebelum masuk ditempat ini aku sempat bergelut di dunia jurnalistik sekolah maupun pondok. Namun, pada kenyataannya, waktu seleksi pertama masuk aku begitu menyadari bahwa kemampuanku tak seberapa. Bahkan, dari penguji pun menilai buruk hasil tulisanku. Mulai dari sinilah tekadku terbangun untuk menjadi penulis yang lebih baik.

Selain aku mampu menempa dalam hal menulis, di Edukasi ini juga banyak sekali kajian intelektual yang dapat aku ikuiti. Melalui diskusi-diskusi secara formal maupun non-formal dengan sekedar ngobrol membahas isu terkini di kantor Edukasi, ataupun dengan baca buku serta koran-koran yang tersedia disitu. Memang hal itu semua masih sulit bagiku yang memang belum menjadi kebiasaan. Akan tetapi, dengan lingkungan seperti ini setidaknya akan mampu merubah kebiasaanku itu.

Tak Semudah yang ku bayangkan

Untuk masuk di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi ini, ternyata tak semudah yang aku bayangkan, inilah yang menjadi pembeda dari UKM-UKM lainnya. Jika kita masuk UKM lain hanya dengan ikut orientasi awal saja sudah resmi menjadi anggota, di Edukasi harus melewati banyak sekali jenjang untuk bisa menjadi kru.

Pada jenjang awal, aku harus melewati tes interview, itupun banyak sekali pos-pos ujian bagi calon kru magannya yang diantaranya tes kajian sastra, kajian pendidikan, kajian keislaman, reportase, desain grafis atau layout, sampai tes psikologi. Begitu banyak memang, tapi hal ini tidak membuatku putus semangat.

Pada jenjang selanjutnya ada syarat yang harus di ikuti oleh para calon kru magang Edukasi yaitu Pelatihan Dasar Jurnalistik (PJD). Dalam pelatihan ini tidak hanya teori-teori saja, namun ada praktiknya. Kala itu para calon kru magang disuruh membuat Koran bayangan hanya dalam waktu sehari saja, itupun dengan selingan materi-materi PJD. Jadi, otomatis aku dan kawan-kawan lain hanya mampu memaksimalkan penulisan dalam waktu beberapa jam saja seusai materi-materi selesai.

Ada kisah menarik di PJD kala itu, aku masih ingat betul. Pada saat itu aku satu kelompok bersama mas Kafiluddin (selaku pimred Koran bayangan), Kamal (layout), Lu’luil, Wirda, Faizah, dan Amri. Kisah menarik ini dimulai ketika penulisan, di saat deadline tulisan sudah mepet timbul masalah yang tidak terduga sebelumnya yaitu laptop lu’luil kala itu ngebleng dan tulisannya pun hanya disimpan disitu. Sontak si lu’luil pun kebingungan sampai ia meneteskan air mata (sungguh tragis… hehe. Tapi sekarang dia jadi reporter handal di newsletter :) )

Setelah PJD usai terlewati, inilah momen yang dimana kita kawan kru magang 2014 akan dilantik serta praktik terjun langsung di dunia jurnalistik yaitu di Workshop Jurnalistik 2014 tepatnya di Palagan Ambarawa. Kisah-kisah pun semakin menarik dalam perjuangan kita menjadi bagian dari Edukasi tercinta ini. Bertempat di Masjid Agung Palagan Ambarawa kisah ku dan para kawan-kawan seperjuanganku dimulai. Pada workshop kala itu, kami diberi tugas untuk membuat majalah bayangan secara manual yaitu dengan tulisan tangan. Aku mendapatkan job untuk membuat Kolom saat itu. Namun, aku juga ingin ikut hunting langsung untuk bisa melihat keadaan di Ambarawa. Kemudian aku putuskan untuk menemani Rizal yang melakukan hunting untuk mengisi rubrik Laporan Khusus, tepatnya meliput di Gua Maria.

Pagi-pagi aku bergegas mempersiapkan diri. Bekal makan pun aku bawa karena memang aku tak biasa makan terlalu pagi. Namun, hal tak terduga terjadi sesampai ku di Gua Maria. Aku yang berniat mengisi perut kosongku dengan makan disana akhirnya buyar nafsu makanku, setelah aku meliha anjing yang tepat di hadapanku dengan air liurnya yang menetes (bagiku itu sangat menjijikkan). Kemudian hal itupun membuatku tak nafsu makan selama sehari penuh disana.

Singkat cerita, inilah saat perjuangan penulisan dimulai yaitu kejar deadline majalah bayangan. Aku yang memang belum pernah menulis kolom kala itu sangat kesulitan. Berulangkali aku mengedit ke mbak Nayiroh, ada kalau sampai tiga kali edit tapi belum jadi juga. Lalu pada akhirnya tepat jam 09.00 WIB ada hal yang sangat membuatku akan putus asa untuk kembali menulis. Disaat deadline yang mepet, sudah editing berulangkali, malahan ketika tulisanku dilihat mbak Ulfa, aku disuruh mengganti secara total tulisanku, bagaimana aku tidak putus asa. Namun, berkat motivasi dari kakak-kakak pembimbingku kala itu, akupun kembali bersemangat menulis lagi. Itulah mengapa aku menganggap untuk masuk edukasi bukan perkara mudah dan juga menulis. Tetapi, disinilah aku sadar mengapa aku harus terus belajar.

Cinta Edukasi, Cinta Menulis dan berkarya

Setelah masuk dan resmi menjadi kru magang Edukasi, masa berproses ku pun dimulai sampai saat ini kurang lebih sudah berjalan satu setengah tahun aku berada dalam lingkungan yang sudah kuanggap sebagai keluargaku. Disini aku mulai menempa kemampuan menulisku setelah aku masuk sebagai kru online di bagian wacana. Walaupun terkadang lika-liku semangat menulisku luntur, tetapi inilah bagian dari proses tersebut. Selain itu sedikit-sedikit aku juga belajar desain grafis dengan menggunakan CorelDraw, dengan sekedar melihat dan mempelajari secara mandiri dari kakak-kakakku mas Fahmi (PU Edukasi) dan mas Aam yang memang sudah ahli pada bidang ini. Jadi, seperti yang ku katakana di awal tadi bahwa dengan lingkungan seperti ini tentu akan ada perubahan yang mampu aku dapat.

            Dari apa yang sudah ku dapatkan hingga saat ini, harapanku disini masih ada banyak hal yang akan mampu aku dapatkan. Terimaksih kepada Edukasi-ku, kau telah mengajarkanku bahwa menulis itu menyenangkan. Menjadi sebuah karya adalah kebanggaan, walau melewati beberapa rintangan yaitu kemalasan. Namun, hal itu tak membuatku patah arang untuk terus belajar menulis menjadikannya sebuah kecintaan dan terus berkarya. Sekali lagi terimakasih Edukasi-ku, aku bangga menjadi bagian dalam dirimu. :)


*ditulis untuk memenuhi Writting Challenge LPM Edukasi dengan tema "Edukasi"
Kamis, 24 Desember 2015 0 komentar

Kontroversi Ucapan Selamat Natal




Oleh: Muhammad Fakhrur Riza

            Perdebatan umat Muslim terkait mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani tak terselesaikan dari tahun ke tahun. Perbedaan pendapat disini jangan sampai menjadikan perpecahan umat Muslim itu sendiri, bahkan sampai mengafirkannya.”



Bulan Desember saat ini telah menjadi bulan yang ramai diperbincangkan. Mengapa demikian? di bulan Desember tahun ini ada dua perayaan hari besar agama yaitu Maulid Nabi Muhammad Shallallu ‘alaihi wa sallam (24/12) dan  Hari Natal (25/12). Kontroversi terkait ucapan selamat pun banyak bermunculan. Warga negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, seringkali memperdebatkan tentang hal ini dari tahun ke tahun. Sebagian orang beranggapan bahwa mengucap Selamat Natal pada umat Kristiani itu perbolehkan. Akan tetapi, ada juga sebagian orang yang mengharamkannya. Bahkan lebih parahnya lagi, golongan yang mengharamkan ini sampai mengafirkan sesama Muslim ketika mengucap selamat natal pada umat Kristiani.

Dalam agama Islam sendiri memang sudah dikatakan bahwa ikhtilaf (Perbedaan) itu pasti adanya dan diperbolehkan apabila berdasarkan dalil Naqli (Al Qur’an dan Hadits). Namun, jika perbedaan itu hanya mendatangkan konflik yang sampai mengafirkan sesama Muslim, tentunya hal ini sangat tidak dianjurkan. Akibatnya, justru akan menjadikan perpecahan di umat Muslim  itu sendiri.

Beberapa tokoh Indonesia dari lembaga-lembaga kredibel ikut berkomentar tentang mengucapkan Selamat Natal pada kaum Kristiani, diantaranya yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Majlis Ulama Indonesia (MUI). Mereka menyatakan bahwa mengucap selamat natal disini diperbolehkan.

Menurut Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma’ruf Amin, menyatakan bahwa mengucap Selamat Natal diperbolehkan, seperti halnya umat kristiani mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri pada umat Muslim. Jadi disini tidak ada larangan pengucapan selamat atas perayaan hari besar antar agama. (dilansir Islam-Institute.com).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr, Said Aqil Siradj juga sependapat dengan K.H Ma’ruf Amin. Menurutnya, dalil yang digunakan dalam melarang ucapan Selamat Natal oleh pihak yang mengharamkan tidak tepat. Selain itu, mantan Ketua Umum Muhammadiyyah, Syafi’I Ma’arif menganggap ucapan Selamat Natal sama saja seperti ucapan Selamat Pagi. Kemudian hal ini juga dianggapnya justru akan mampu menimbulkan perdamaian antar agama. (dilansi Islamoderat.com)  

Kemudian dari mantan Ketua MUI, Buya Hamka dan Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Cholil Nafis juga berpendapat diperbolekannya mengucap Selamat Natal. Mereka beranggapan bahwa jika hanya mengucap selamat untuk sekedar mengapresiasi pertemanan antar pemeluk agama itu dibolehkan. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan yaitu apabila meyakini dan ikut merayakan ibadah Natal. (dilansir Detik.com)

Dari apa yang telah terpaparkan diatas terkait kontroversi mengucap Selamat Natal, disini sudah jelas jika untuk mengucapkannya itu diperbolehkan. Hanya saja yang perlu ditekankan bahwa diperbolehkannya sekedar untuk mengucap Selamat Natal, bukan mengikuti apa yang umat Kristiani yakini serta ikut perayaan atau ibadah mereka. Kemudian, sebagai umat Muslim tentu dengan adanya perbedaan pendapat ini, jangan sampai menjadikan kita justru mengafirkan antar sesama Muslim. Akan tetapi mampu menjadikan kita bisa lebih menghargai umat agama lain, apalagi yang seagama dengan kita walaupun berbeda dalam berpendapat. Sehingga, kerukunan antar agama disini diharap mampu terjalin seperti halnya prinsip “Bhineka Tunggal Ika” Mpu Tantular yang mengedepankan persatuan walaupun berbeda-beda. 


*pernah dipublikasikan di www.lpmedukasi.com
 
;